”Sang pengkhayal”
by : s. maiyusri
Malam ini hujan deras ketika di malam minggu membuat
orang-orang memutuskan untuk tidur mengambil selimut dan memejamkan matanya. Bagi
mereka yang lagi malam minggu ? Entahlah itu tidak masuk bagian dari cerpen
ini.
“Malam ini dengan siapa? Sapa sang penyiar yang lagi ngangkat telpon
dari salah satu klien curhatnya.
”Malam juga penyiar ini Mr
X dari negri entah berantah.” jawab si penelpon yang asal ngomong aja.
”Malam ini Mr X mau curhat masalah apa nih ?
”Jadi malam ini edisi curhat-curhatan
ya?” tanya sipenelpon yang kayaknya nggak ngikutin acara radio yang telah
berlangsung satu setengah jam.
”Ok deh, kebetulan aku
juga butuh teman curhat nih. Gini penyiar aku punya cewek nih. Jadi tadi dia
mutusin aku gitu tanpa sebab yang jelas. Waktu aku tanyain apa salah aku dia cuma
bilang makasih padaku atas kebersamaan kita selama ini. Dan makasih karena aku
telah gantiin posisi cowoknya yang jauh darinya.”
”Maksud kamu? Duh kayaknya
sipenyiar nggak nyambung-nyambung ya, maklum signal sudah mulai kurang kan udah
larut malam.
”Gini, cewek itu punya
cowok dijakarta. Karena jarak mereka yang jauh, jadi dia ngerasa kesepian.
Karena kami selama ini dekat jadi dia sering berbagi cerita sama aku dan karena
kedekatan itulah kami memutuskan untuk berhubungan lebih dari sekedar teman.”
”Waktu kalian jadian apa
tuh cewek udah mutusin pacarnya yang ada dijakarta itu?”
”Belum sih, tapi aku
mau-mau aja karena aku rasa dia bisa ngelupain pacarnya tersebut. Kan dia sudah
punya aku yang lebih perhatian dari cowoknya itu.”
”Dunia ini nggak dapat
dipastikan Mr X. Kalau menurut aku itu terjadi karena kecerobohan kamu juga. Ya
saran aku, sebaiknya kamu lupain dia, lupain kejadian itu, anggap itu tidak
pernah terjadi. Mungkin saja tuhan akan mengirimkan seorang cewek yang lebih
baik dari dia OK.
” Akan aku usahain deh.
Makasih penyiar.” jawab Mr X dengan suara memelas.
”ya sama-sama.”
Itulah sepenggal dialog
antara penyiar dan penelpon yang baru saja aku dengar. aku memang suka
mendengarkan curhatan-curhatan
dari teman-temannya maupun dari radio seperti tadi karena dari pengalaman yang aku
dengar bisa mendalami arti hidup dan mengambil hikmah dari setiap cerita yang
didengarnya.
Dalam hati aku berbisik
”Tuh cowok bodoh amat sih
mau aja ngelakuin hubungan yang nggak jelas kayak gitu. Kalau nggak laku sabar
aja. Liat ne aku enjoy-enjoy aja tu. Ah aku nggak boleh berfikiran kayak gitu.
Toh kalau kamu diposisi itu belum tentu kamu bisa sebijak yang kamu kira. Kata
orang cinta itu buta.”
Tiba-tiba suara merdu ”Ello”
menemani malam-malam sunyiku. Sedikit demi sedikit tubuh ku mulai bergerak dan
kemudian bergoyang mengikuti Lantunan lagu ”masih ada”, lagu kesayangan ku yang
kebetulan isi liriknya aku banget.
Malam semakin larut. Aku tidak bisa menolak
perintah otakku untuk segera tidur dan melepaskan earphone dari telinga.
Bunyi alarm dari handphone
pun membuat ku terbangun. Aku harus bergegas karena akan mengantarkan adik
kemesjid untuk didikan subuh.
Sepulang dari mengantarkan adik dan setelah shalat
subuh. Aku bersama ibu dan ayah jalan-jalan pagi disekitaran kota painan yang
belum begitu terpolusi.
Ditengah perjalanan aku bertemu dengan Rian, teman
sekelas ku dulu waktu di SMP. Aku pun berusaha melempar senyum kepadanya. aku
tak menyangka senyumku akan dibalas ramah oleh Rian. Sejak kejadian itu sampai
sekarang aku dan Rian memang tidak pernah tegur sapa. Setiap kali berpas-pasan
Rian acap kali memalingkan wajahnya dari ku.
Kejadian itu dimulai sejak
aku duduk dikelas VIII. Saat aku memutuskan untuk tidak menerima perasaan
melebihi teman dari Rian ( tapi sebenarnya dia belum menyampaikannya padaku). aku
merasa masih tergolong anak-anak dan belum cukup umur untuk melakukan hubungan
dengan seorang cowok yang melebihi teman.
” Mek ada yang kirim salam
sama kamu ,( cie.... suit suit....)”
” Siapa?” aku nanya dengan tampang serius, tapi
dalam hati...entahlah hanya Allah yang tahu.
”Rian”
” kalau gitu bilang sama
dia waalaikumusalam dari aku ya.”
Jujur aku nggak respect
sama sekali karena aku kira teman-teman hanya becanda. Tapi, besoknya...
” Mek tahu nggak? Rian dan Yogi kemaren bertangkar gara-gara kamu lo.”
” bertangkar gara-gara aku
kenapa tu anak?”
” jadi gini ceritanya, sore kemaren kami lagi
duduk-duduk dekat jembatan.Yogi bilang ” Oi Yan, Meksi lewat tu? ”. Trus
Rian kaget gitu. ” mana? Mana? ”. ”nggak
ada kok cuma becanda” dan Rian langsung marah ma Yogi.”
” sumpe loe?
” iya bener.”
” Ok lah kalau begitu!
Lonceng udah bunyi tu ayo masuk.”
Dikelas
Aku dan teman sebangku
sedang asyik ngobrol tentang mimpinya yang gila banget. Aku betul-betul serius
mendengarnya. Tapi...
”Mek Rian mau ngomong ne
sama kamu”.
”Entar ya aku lagi asyik ngomong ne sama Wiwit,”
” Aku dan Wiwit lumayan lama ngobrolnya. Habis
ceritanya panjang banget. Ternyata Rian nggak sabar nunggu. Ketika aku baru
selesai ngobrolnya, lonceng berbunyi. Aku bener-bener lupa sama janji aku ke
Rian. Trus waktu aku masuk kembali kekelas, teman-teman Rian marah banget sama
aku dan mereka meneriaki aku sombong. Aku mau jelasin tapi mereka nggak mau
dengar. Ya udah, sejak saat
itu aku dan Rian serta beberapa temannya nggak saling sapa. Ketika naik kelas IX
aku, Rian dan temannya pisah kelas dan kami
sibuk dengan urusan masing-masing. Jadi komunikasi kami tambah terputus.
Sekarang diwaktu SMA teman-teman dekat aku banyak
yang tidak satu sekolahan dengan aku, termasuk Rian. Di lain kesempatan, ketika aku bermain kerumah teman-teman SMP untuk
mengobati rasa kangennya dan Rian ada disana, Rian bahkan tidak mau melihat
muka dan tidak mau bicara denganku.
”Tumben tuh anak mau membalas senyumku padahal
dulunya sok-sok jual mahal gitu. Ah nggak boleh berfikiran kayak gitu, aku
harus berusaha memaafkan dia. Tuhan aja mau memafkan hambanya masa kamu egois gini sih. Mungkin aja dia
sekarang udah mulai bisa berfikir dewasa.”bisik hati kecil ku yang mencoba ber ”positif
thinking”
Tapi dia tidak begitu
memusingkannya. Hal itu sudah
menjadi bagian dari jalan hidup dan masa lalunya.
Jujur aku memang tidak pernah pacaran sampai
sekarang yang telah duduk di kelas 2 SMA. Dan aku dulu buka tipe orang yang mau terbuka
dengan perasaanku. Tapi sekarang setelah mendengar saran ibu akupun mencoba
untuk terbuka dan mau bercerita kepada beberapa teman yang aku percaya.
Dan salah satu temanku bercerita kepadaku tentang
kisah cintanya di masa SMP, aku mau cerita apa toh aku tidak pernah punya
hubungan spesial dengan seorang cowok. Dan teman-temanku pun banyak yang tahu.
Akupun menceritakan dengan tampang lumayan meyakinkan bahwa aku pernah suatu
ketika cemburu karena orang yang aku sukai juga disukai oleh teman dekatku.
Spontan saja dia berkata.
”Waw , ternyata kamu normal juga ya.”
Akupun langsung telan ludah mendengarnya. Jadi
selama ini teman-teman ku menganggap aku tidak normal. Kejamnya..........
” ya nurdila
lah masa ya nurdidong” aku berusaha sekuat tenaga menahan gejolak jiwa.
Sejak saat itu aku selalu berusaha nunjukin
keteman-teman bahwa aku ini tidak seperti yang mereka kira. Tapi tunggu dulu
jangan beranggapan bahwa aku langsung cari pacar dadakan. Aku masih belum siap
pacaran karena konsekkuensi tertentu. Yang jelas bukan karena ortu melarang,
ortu ngizinin kok.
kebetulan saat itu aku memang memiliki seorang
teman dekat cowok, diam-diam aku menyukainya dan aku masih belum siap ngomong,
takut ditolak. Bayangin aja kalau aku ditolak, teman-teman pasti kesusahan
karena harus nyiapin ember untuk nampung air mataku. Syukur-syukur kalau muat
kalau nggak sekolahku bisa kebanjiran lokal deh. Padahal 2 hari lagi akan
diadakan olimpiade sains sekabupaten. Bisa-bisa aku masuk koran gara ngalangin
acara tersebut. ”AIR MATA AJAIB MEMBANJIRI LOKASI OLIMPIADE SEKABUPATEN
PESSEL”. aku bakal bisa ngalahin pamornya Mahohara. Trus jadi pemain film dan
sinetron. Dan orang tuaku akan bilang
” tidak sia-sia ibu melahirkan kamu sayang,
ternyata tanpa ibu sadari kamu punya kelebihan yang luar binasa”
” bukan luar binasa bu tapi luar
biasa.”
” luar biasa apaan wong kamu udah
membinasakan sekolah tempat menuntut ilmu dan tempat kamu bisa pintar.” ibu
yang baru belajar bahasa jawa langsung mempraktekkannya padaku.
Duh hidupku hancur banget..
Ternyata cerita
omong kosong ku jadi kenyataan, cowok yang aku sukai juga disukai oleh teman
dekatku. Tapi untungnya khayalan yang nggak masuk akal ku tadi tidak jadi
kenyataan. Alhamdulillah sekolah nggak jadi kebanjiran.
Aku ini orang sabar, baik hati dan tidak sombong.
Mungkin aja ada cowok lain yang naksir diam-diam sama aku. Si dianya aja yang
belum sadar. Aku harus berusaha nemuin cinta sejatiku.
Hari minggu ini aku malas rasanya membuka mata
yang indah ini, dengan pesona alis yang tebal, bulu mata yang lentik dan bola
mata yang coklat ( coklat-coklat gini mempesona lo, jangan kira Cuma mata
birunya bule saja yang memikat, bahkan mata coklatku pernah buat seorang cowok
pingsan, kalian tahu kenapa? Karena mata coklatku seketika berubah jadi merah
kayak matanya edward di film twilight, cerita ngawurnya). setelah mata ini bisa
kuajak kompromi, giliran body yang harus dipaksa duduk. Dan kayaknya nggak
susah-susah amat ngajaknya karena dia sudah kuancam, awas kalau nggak bangun
ntar kena cubit sama ibu. Ya dia secepat kilat bergerak dan........
Kali ini aku sudah duduk dengan santainya di ruang
keluarga. Baca-baca koran, mungkin ada cowok romantis yang menyampaikan
proklamasi cintanya padaku.
Sudah sekian lama aku membolak balik halaman koran,
sesuatu yang aku cari tidak ditemukan. Tim SAR pun kewalahan dan menyatakan
bahwa mereka menyerah. Tampaknya alunan lagu D’Masivv yang aku hidupkan untuk
membakar semangat mereka telah sia-sia.
Ah kenapa ku hanya memikirkan masalah cinta. Cinta adalah kata yang setiap orang
mengartikannya berbeda. Tergantung pengalaman yang telah dia lalui. Dan bagiku
membahas cinta hanya akan menghabiskan waktu. Sekarang tiba saatnya
dipenghujung perjalanan. Aku harus menghadapi UAN yang sangat mengerikan karena
bagaimanapun semangat 45’ nya kita melangkah kesekolah dan hadir 100% nggak
bakal menjamin kita untuk lulus. Tapi kita juga harus persiapan. Karena aku
pernah membaca sebuah kutipan :
”
Allah menyiapkan yang terbaik selama kita berusaha maksimal”
”jika
kita merasa lelah, tidak berdaya dan
usaha yang sepertinya sia-sia, Allah tahu betapa keras kita berusaha. Ketika
kita merasa sendirian dan tidak ada yang peduli. Allah selalu bersama kita.”
Perjuangan berat telah membuatku
mati rasa seperti lagunya dewi sandra. Aku benar-benar pasrah apapun yang
terjadi aku harus selalu bersemangat
Setelah pencarian yang cukup lama hingga aku tamat
SMA sepertinya tidak ada yang nembak aku. Alhamdulillah aku masih diberi kesempatan
oleh allah untuk menjalani hidup dan mencari pasangan sejati. Dan akhirnya aku
dapat juga. Kebetulan wali band sedang cari jodoh mungkin aja aku bisa daftar.
Selamat tinggal teman-teman aku bakal masuk koran sekaligus diliput oleh
infotaiment. Akhirnya bu, ibu benar-benar nggak sia-sia melahirkan aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar